Perbedaan Antar Paradigma Dalam Ilmu Sosiologi

Perbedaan Antar Paradigma  Dalam Ilmu Sosiologi. George Ritzer menemukan perbedaan antara ketiga paradigma sosiologi itu bersifat estetis atau memiliki keindahan. Perbedaan ini sesuai dengan yang didapatkan pada penelitian dilapangan. Berbagai elemen dalam setiap paradigma saling menyesuaikan diri kearah hubungan yang makin harmonis.

Keseluruhan pendekatan teoritis dalam masing-masing paradigma diakui sebagai persamaan yang asasi, walaupun memiliki perbedaan dalam orientasi teoritis. Metode atau cara yang disukai oleh tiap-tiap paradigma, jelas sekali saling berhubungan antara tiap-tiap paradigma. Oleh karena itu, Ritzer menyatakan paradigma yang ada dalam sosiologi itu saling berhubungan satu sama lain dengan demikian akan melemahkan sebagian besar dasar-dasar perbedaan yang ada saat ini. Memang terdapat perspektif yang tidak bisa dikategorikan. Salah satunya adalah teori penting yang lahir dari aliran Frankfurt yang menentang klasifikasi. Teori ini melahirkan dasar bagi kemunculan paradigma keempat. Perspektif yang lainnya adalah semakin meningkatnya arti penting dari aliran biologi dalam sosiologi.

PERBEDAAN PARADIGMA SOSIOLOGI SEKARANG


Sosiologi dewasa ini secara radikal terbagi dalam tiga paradigma yang saling bertentangan. Tiap-tiap paradigma sosiologi berjuang untuk mencapai dominasi. Pada waktu yang bersamaan ketiganya berlomba-lomba untuk mendapatkan keunggulan dalam sub-area yang berdekatan dalam ilmu sosiologi. Penganut masing-masing paradigma tidak ada yang bebas dari kritik penganut paradigma lainnya. Hal tersebut yang menjadi implikasi dari keberagaman paradigma tersebut terhadap sosiologi modern dewasa ini.

PERBEDAAN PARADIGMA SOSIOLOGI DI MASA DATANG


Ritzer menduga sebagian besar sosiolog tidak menyadari wujud perbedaan yang mendasar dalam ilmu sosiologi. Di masa lalu, sebagian besar sosiolog percaya bahwa perbedaan antara teori konflik dan teori fungsionalisme struktural merupakan perbedaan yang mendasar dalam sosiologi.

Konklusi paling umum yaitu bahwa dalam waktu dekat akan terjadi perdamaian paradigma sosiologi. Dalam waktu dekat sepertinya tidak ada paradigma yang mendominasi dalam sosiologi. Alasannya adalah:

Pertama, jarang terjadi suatu ilmu mendominasi satu paradigma.

Kedua, meskipun penganut tiap-tiap paradigma menyatakan mampu menyelesaikan segenap persoalan sosiologi, namun pendekatan mereka rupanya hanya cocok untuk bidang realitas sosial tertentu saja.

Ketiga, dan terpenting, karena kesetiaan yang fanatik penganut paradigma itu terhadap politik dan tujuan paradigmanya masing-masing belum terlihat langkah-langkah yang berarti kearah pengembangan paradigma tunggal sampai saat ini karena kebanyakan sosiolog lebih beketetapan hati terhadap paradigma yang mereka anut daripada pengembangan sosiologis dalam pemikirannya. Memenangkan paradigma yang dianut menjadi komitmen utama dari para sosiolog.

Untuk memahami ketiga paradigma, paradigma prilaku sosial, paradigma fakta sosial dan paradigma defenisi sosial secara mendalam kita harus mempelajari kerangka strukturnya, nilai-nilai dan norma-norma didalamnya seperti, definisi situasi dan efek dari tindakan sosiolog penganut masing-masing paradigma itu. Sebuah paradigma sosiologi meliputi struktur, institusi, defenisi situasi, tindakan dan kemungkinan pengulangan tindakan. Berdasarkan realita ini kita membutuhkan seluruh paradigma.

JEMBATAN PARADIGMA


Menurut Ritzer semua teoritis besar sosiologi sebenarnya mampu menjadi jembatan penghubung paradigma. Mereka setidaknya mampu bergerak dengan mudah diantara dua atau lebih paradigma yang dibahas disini. Hal ini samasekali bukan proses yang disadari sekalipun sebagian besar teoritis itu merasa perlu menerangkan realitas sosial dengan cara yang berlainan. Ada yang mencoba berurusan dengan berbagai macam paradigma sekaligus, sedangkan sebagian lainnya berpindah dari suatu paradigma ke paradigma lainnya. Yang termasuk penjembatan paradigma dalam sosiologi ialah : Durkheim, Weber, Marx dan Parsons.

Secara terperinci kandungan Bab ini dapat disimpulkan sebagai berikut.
Behaviorisme selain disukai banyak sosiolog juga merupakan perspektif utama sosiologi kontemporer. Sebagian besar analisa sosiologi mengabaikan arti penting behaviorisme.

Konsepsi umum yang memisahkan antara teori fungsionalisme structural dan teori konflik adalah menyesatkan. Kedua teori ini lebih banyak unsure persamaanya ketimbang perbedaanya, karena keduanya tercakup kedalam satu paradigma

Implikasi lain ialah adanya hubungan antara teori dan metode yang selalu dikira dipraktekan secara terpisah satu sama lain. Umumnya terdapat keselarasan antara teori dan metode.Ada irrasionalitas dalam sosiologi, kebanyakan sosiolog yang terlibat dalam pekerjaan teoritis dan metodologi tidak memahami kaitan erat antar keduanya.

Pertentangan antar paradigma sosiologi sangat bersifat politik. Tiap paradigma bersaing disetiap bidang sosiologi. Kebanyakan upaya semata-msata untuk menyerang lawan dari paradigma lain dengan berondongan kata-kata yang berlebih-lebihan.

Related Posts

Perbedaan Antar Paradigma Dalam Ilmu Sosiologi
4/ 5
Oleh

Bila Anda suka artikel ini, mohon tinggalkan KOMENTAR, SHARE dan di tunggu KUNJUNGAN BERIKUTNYA. Regards