Sosiologi Pendidikan

Sosial Sosiologi - Sosiologi pendidikan adalah studi tentang bagaimana lembaga-lembaga publik dan pengalaman individu mempengaruhi pendidikan dan hasilnya. Hal ini sebagian besar berkaitan dengan sistem sekolah umum dari masyarakat industri modern, termasuk perluasan, lanjut, dewasa, dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Sosiologi Pendidikan

Pendidikan sering sangat banyak sehingga dilihat sebagai usaha manusia fundamental optimis ditandai dengan aspirasi untuk kemajuan dan perbaikan. Hal ini dipahami oleh banyak menjadi sarana untuk mengatasi cacat, mencapai kesetaraan yang lebih besar, dan memperoleh kekayaan dan status sosial. Pendidikan dianggap sebagai tempat di mana anak-anak dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan mereka yang unik dan potensial. Hal ini dianggap sebagai salah satu cara terbaik untuk mencapai kesetaraan sosial yang lebih besar. Banyak orang akan mengatakan bahwa tujuan pendidikan harus mengembangkan setiap individu untuk potensi penuh mereka, dan memberi mereka kesempatan untuk mencapai sebanyak dalam kehidupan sebagai kemampuan alami mereka memungkinkan (meritokrasi). Beberapa berpendapat bahwa sistem pendidikan mencapai tujuan ini dengan sempurna. Beberapa mengambil pandangan yang sangat negatif, dengan alasan bahwa sistem pendidikan dirancang dengan tujuan menimbulkan reproduksi sosial ketidaksetaraan.

Landasan


Landasan sosiologi mengandung norma-norma dasar pendidikan yang berasal dari norma-norma sosial yang dianut oleh bangsa. Untuk memahami kehidupan sosial suatu bangsa, kita harus fokus pada pola hubungan interpersonal dan antar kelompok dalam masyarakat. Untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan damai, menciptakan nilai-nilai sosial dalam perkembangannya menjadi norma-norma sosial yang mengikat kehidupan masyarakat dan harus diikuti oleh setiap anggota masyarakat.

Dalam kehidupan sosial dibedakan tiga jenis norma diadopsi oleh para pengikutnya, yaitu: (1) paham individualisme, (2) paham kolektivisme, (3) paham integralistik. Individualisme didasarkan pada teori bahwa manusia dilahirkan hidup bebas dan mandiri.

Paham Individualisme

Setiap orang dapat melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya, asalkan tidak mengganggu keselamatan orang lain. Dampak individualisme menimbulkan perspektif yang mengutamakan kepentingan diri sendiri dari pada kepentingan masyarakat. Dalam masyarakat ini, upaya untuk mencapai pengembangan diri, antara anggota masyarakat dengan satu sama lain saling bersaing, menyebabkan dampak yang kuat.

Paham Kolektivisme

Kolektivisme memberikan posisi berlebihan kepada masyarakat dan komunitas anggotanya secara personal hanya sebagai sarana bagi masyarakat.

Paham Integralistik

Sedangkan integralistik didasarkan pada pemahaman bahwa setiap anggota masyarakat berkaitan erat satu sama lain secara organik adalah masyarakat. Integralistik menempatkan manusia tidak individualis melainkan dalam konteks struktur manusia individual dan juga sosial. Kepentingan masyarakat secara keseluruhan diutamakan tanpa merugikan kepentingan pribadi.
Landasan sosiologi pendidikan di Indonesia mengadopsi integralistik yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat:
  1. kekeluargaan, gotong royong, kebersamaan, musyawarah mufakat,
  2. kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat,
  3. negara melindungi warga negaranya, dan
  4. selaras serasi seimbang antara hak dan kewajiban.
Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia tidak hanya meningkatkan kualitas manusia secara orang per orang melainkan juga kualitas struktur masyarakatnya.

Related Posts

Sosiologi Pendidikan
4/ 5
Oleh

Bila Anda suka artikel ini, mohon tinggalkan KOMENTAR, SHARE dan di tunggu KUNJUNGAN BERIKUTNYA. Regards